Showing posts with label Work. Show all posts
Showing posts with label Work. Show all posts

August 3, 2018

Three Things Your Boss Will Tell You About Aiming For Success


If you have 30 minutes to talk with your CEO at fireside, what topics will you bring up? I bet the questions would be about his success path. How did he make his way to the top? What differences he have made to achieve target? What driven him the most?

I once had the opportunity to ask such questions. The man in power sure has a lot of experience to share. Stories were told, lessons were learned, and traits were shared. Hearing his speech was like reading a motivation book. He gave three key points he feels affected him along the road to his success.
  1. Focus on your goal. What should be the goal here is what really matters to you. Something that cannot get out of your head, something that you feel is the most important to you. No matter how distractive your surroundings, your mind will always get back to it. No matter how difficult it might seem, you will always try to succeed it.
  2. Be competent in your work. Be irreplaceable. Go extra mile to learn different approach to make things more efficient. Be acknowledged for your expertise. Learn third language, take new project, travel to new places, grab the challenge, anything to expand your experience and shape your skills.
  3. Execute your plan. You will never know how good a plan is until you start carrying it out. You never know how good a dream is until you make it a reality. Start immediately and you will feel the urge to finish it immediately as well. One tip to remember: always listen to your guts. Spontaneous decision is usually the best decision.

June 18, 2017

Yang Cepat, Yang Lebih Produktif

Sadarkah kamu bahwa video-video yang kamu tonton di Facebook ataupun Youtube seringkali dikemas dalam format cepat (hyperlapse)? Selain agar lebih ngirit space, juga agar lebih menarik. Nonton lima menit video tutorial saja kita sudah bisa tau sepuluh macam DIY. Jika suka videonya, tinggal klik like, share, atau save buat jaga-jaga siapa tau nanti kepengen bikin yang seperti itu (walaupun pada kenyataannya terlupakan). Awalnya memang hanya iseng buka satu video, kita pikir ah paling sebentar ini gak nyampe lima menit. Gak taunya setelah satu video selesai, muncul video berikutnya yang mirip-mirip tapi judulnya menarik. Gak terasa dua jam habis cuma untuk nonton video. Setelah itu, kita kembali ke rutinitas.

Tanpa kita sadari, keputusan kita untuk menonton video-video tersebut dilakukan tanpa berpikir panjang. Walaupun terkadang kita senang melihat proses, tapi sebenarnya kita lebih penasaran dengan hasil akhir. Bahkan jika video itu panjang atau kelamaan prosesnya, tanpa ragu kita klik fast-forward hingga ke tampilan akhir. "Oh...ternyata kaya gitu...", adalah kalimat yang sering kita ucapkan di dalam pikiran. Jarang kita mengulang video yang sudah ditonton. Ibarat buka puasa dengan sop buah porsi besar. Awalnya terlihat sangat menggiurkan. Disantap langsung dalam sekejap habis tak bersisa. Begitu disuruh sebutin buah apa aja tadi yang dimakan hanya mampu ingat empat atau lima buah saja, selebihnya lupa. Kalau disuruh ngulang makan sop buah lagi, ogah karena sudah kenyang. Tapi kalau ditawari gorengan, mau juga deh nyomot barang dua biji. Padahal belum sepuluh menit tapi perut udah begah kekenyangan.

Kembali lagi ke video. Video yang dipercepat terlihat lebih menarik daripada yang biasa. Berkat mudahnya teknologi, kita bisa melakukan banyak hal dalam waktu yang singkat. Yang kita lihat di layar, semua memang serba cepat. Namun demikian, rutinitas yang kita jalankan bergerak dengan kecepatan biasa (biasa disini maksudnya biasa lambat). Misalnya, kita bekerja 8 jam sehari. Mulai dari hari Senin saja kita sudah agak malas karena terpikir kemacetan yang bakal membuat pergerakan kita jadi lambat. Sampai di kantor kita lambat mengingat-ingat apa saja yang terakhir dikerjakan dan apa yang belum. Lambat-lambat kita mulai bekerja, walaupun mata sering melirik ke jam menghitung sisa waktu menuju makan siang. Cara bekerja seperti ini sangat membosankan. Mungkin saking bosannya, kita sengaja menunda. Sampai ketika pekerjaan sudah menumpuk atau mendekati deadline, baru kita sibuk dan stress. Baru deh kita mulai bergerak cepat, kita fast-forward cara bekerja kita. Mata yang tadinya ngantuk jadi terpaksa melek. Disinilah mulai terasa semangat energi. Kita tau bahwa kita mesti mempercepat proses agar sampai ke hasil akhir, persis seperti video yang dipercepat.

Bekerja lebih cepat terasa lebih bersemangat. Sebenernya kita tidak hanya bisa mempercepat video yang kita lihat di dunia maya, tapi kita juga bisa mempercepat "video kita" di dunia nyata. Misalnya, mulai dari pekerjaan kecil, seperti mengelap meja, bisa kita lakukan dalam waktu 1 menit. Tidak perlu berlama-lama yang penting goal-nya tercapai. Jika sudah dimulai, energi yang muncul akan semakin besar. Kita jadi tambah semangat untuk mengerjakan hal-hal lainnya. Trik ini membuat pekerjaan kita lebih efisien, lebih produktif, mengurangi galau dan baper, yang pasti kita lebih puas dan pede sama diri sendiri.

Jadi, jangan berpikir terlalu lama. Lakukan apa yang menurutmu penting untuk dilakukan...dan lakukan itu dengan cepat! Hap hap hap! :-)


Tambahan: Dua artikel berikut mungkin bisa jadi inspirasi kamu:
Artikel 1 -> 35 Tips Tokcer Agar Kamu Produktif, Serta Bisa Kerja Dengan Cepat dan Efisien
Artikel 2 -> Cara Membedakan Pekerjaan Penting, Kerjaan Mendesak, dan Kerjaan Nggak Penting

May 19, 2014

Lunch With CEO

It's been three years I've been working at Mercedes-Benz Indonesia, a working place in the suburbs, far away from busy traffic. I never dreamed to work at this company before, but as soon as I discovered how green and spacious the plant is, that I could hear birds singing every morning, I began to enjoy the place. Despite all common obstacles and challenges a company could have, this one stays providing the employees shuttle bus and buffet canteen, so I don't have to worry about delay transport or late lunch. I could manage after hours workout in timely manner. I could spend me-time or quality time with family, and other personal activities. 

Recently the company has been working more onto employee's benefit, including to strengthen relationship between employee and management. On April 16, there was an event called "Table Twelve", a casual lunch meeting with the new CEO. The place was taken at VIP section of the canteen. Anyone could join the event: workers, staffs and managers. The participants could address any questions or tell any stories to the CEO, and directly hear his responds. I was impressed how he managed to answer the revolving questions diplomatically. A calm and cordial leader, that despite of language barrier and totally different cultural mindset, his efforts to connect with the people deserved thumbs up. If I were the CEO, I would learn his manners too. To me it is very interesting to meet a good leader and learn new perspectives.

May 1, 2013

A Warm Letter from Cold Stuttgart


PING! A new E-mail just popped out in my Lotus Notes. A message from Susanne, my colleague in HQ office, a middle-aged woman who has been wholeheartedly supporting me in CBU imports. By the time being, we’re becoming more than just colleagues, though we never met one another, we become instant friends by gradually sharing stories. As women, we value relationship in workplace as a fellow human being trying to peek out a living 40 hours a week.

I always mesmerized reading her E-mails as she shared her wisdom and experience to me. One of the big lessons she shared to me is to learn “to let go”. She said there is a time for everything and when it is over, we have to let go. It may be hard and sad or it can be a relief sometimes but it will be crossing our way again. My heart was pounding when I read her message words by words.

I am now 24 years old and still have difficulties to let go. I want things to remain, I want people to stay, I want friendship to last forever but we all have to learn that it doesn't really count what we want. And Susanne gently advised me that we better accept what we get and we can continue to be friendly and good, hoping to make the world a little bit brighter.

Susanne encouraged me to move on and to stay true in being who I am. She taught me by example not to have regrets for what we did, but rather for things we did not do. Have no regrets.

Susanne has been my biggest inspiration in workplace. We keep corresponding one or two times a week. And she (as always) concluded her letter with little mark: “Warm regards from cold Stuttgart”.

November 11, 2011

10 Random Things I've Seen Lately

Morning notes to make my day
A smiling sling bag smiles at me. Try repeat that sentence 10x!

Keep the city clean while you're sitting on the trash bin. Sure this thing can only be happened in JKT!
They cannot be separated. A cat is a good friend for a bike (?)
A baby chasing baloon
If this driver's cheating, call his wife immediately. lol!
Horizontal rainbows on the wall. wow!
A gym ball ridiculously stuck on my door
A joyful moment just to win a-loaf-of-bread lottery
and a silly hat I found under the table

August 15, 2011

Liebe deine Arbeit (Love Your Work)

"Rasanya seperti baru kemarin aku melihat punggung ayahku dari depan pintu rumah. Sekarang setiap pagi menjelang, ayah yang melihat punggungku dari depan rumah."
Tidak terasa saya mengalami hal sama yang pernah dialami orang tuaku. Sebagai kaum proletar (sampai sekarang), saya sadar semangat bekerja keras tidak boleh luntur untuk bisa mencapai puncak piramida sosial. Jalan menuju puncak tersebut (kebebasan finansial) memang sangat sulit. Kadang nasib terasa seperti dadu yang dilempar oleh Tuhan, berhenti di posisi yang tidak terduga. Namun apapun nasib yang kita miliki, harus tetap dijalani dengan dengan sukacita.

Saya baru membaca sebuah buku tentang "Management by Love". Salah satu hal menarik yang saya serap dalam-dalam adalah:

Mencintai pekerjaan juga mempunyai dampak terhadap hasil kerja. Seperti angka 10 yang kita dapat sewaktu pendidikan dasar (SD, SMP, SMA), kita harus berusaha mendapatkan angka terbaik. Namun karena kita adalah manusia tidak sempurna, maka setidaknya kita bisa mendapatkan angka 9. Maka kualitas menjadi "Mr. 9" hendaknya menjadi ambisi kita.

Apapun yang terjadi di dalam lingkungan kita, apakah kita memiliki atasan yang kurang baik atau rekan-rekan yang menjengkelkan maupun fasilitas perusahaan yang kurang berkenan di hati, kita harus selalu memaksimalkan diri untuk tetap menjadi "Mr. 9". Jangan menangisi dan/atau mengutuki keadaan. Apalagi kemudian menjadikannya alasan untuk menurunkan standar mutu kerja, dan menjadikan kita sebagai "Mr. 4" (yang berarti kita dengan sengaja berprestasi di bawah kompetensi kita). Hal ini akan merugikan diri sendiri karena menurunkan martabat maupun kualitas yang Tuhan telah anugerahkan pada kita, yaitu menjadi "Mr. 9".